Kehadiran Myanmar dalam berbagai forum internasional semakin menjadi topik yang memunculkan berbagai pertanyaan, terutama sejak terjadinya kudeta militer pada Februari 2021. Keputusan Myanmar untuk tidak hadir dalam berbagai pertemuan internasional membuat ketidakpastian terkait peran negara tersebut dalam organisasi regional semakin jelas, terutama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation (BIMSTEC).
BIMSTEC dan Perannya di Kawasan
BIMSTEC adalah sebuah organisasi regional yang terdiri dari tujuh negara yang terletak di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, yaitu Bangladesh, India, Myanmar, Sri Lanka, Thailand, Nepal, dan Bhutan. KTT BIMSTEC merupakan acara puncak yang bertujuan untuk memperbaharui komitmen antar negara anggota terhadap tujuan bersama tersebut.
Namun, kehadiran Myanmar di KTT BIMSTEC sering kali menjadi sorotan sejak terjadinya perubahan besar dalam negara tersebut setelah militer Myanmar melakukan kudeta pada 2021. Kudeta ini mengakhiri pemerintahan sipil yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, dan menyebabkan gelombang protes dan penolakan terhadap pemerintahan militer dari berbagai kalangan di dalam maupun luar negeri.
Kudeta Militer dan Pengaruhnya terhadap Posisi Myanmar di BIMSTEC
Sejak kudeta, banyak negara dan organisasi internasional, termasuk negara-negara anggota ASEAN, mulai merumuskan kembali hubungan mereka dengan Myanmar. Di tingkat ASEAN sendiri, Myanmar tidak diundang untuk menghadiri beberapa pertemuan penting dan diplomasi regional akibat ketidaksetujuan dengan pemerintahan militer yang baru. Sementara itu, di dalam forum BIMSTEC, ketidakpastian serupa terjadi terkait kehadiran Myanmar.
Keterlibatan Negara-negara Anggota dalam Menanggapi Ketidakpastian
BIMSTEC, sebagai sebuah organisasi yang bertujuan untuk memajukan kerjasama antar negara, harus menghadapi tantangan besar dalam menghadapi ketidakpastian mengenai kehadiran Myanmar. Negara-negara anggota BIMSTEC lainnya, seperti India dan Bangladesh, memiliki posisi yang jelas dalam menanggapi situasi ini.;
Bangladesh, yang memiliki hubungan dekat dengan Myanmar, terutama dalam konteks isu pengungsi Rohingya, juga berada dalam posisi yang rumit. Ketegangan ini sering kali menjadi hambatan bagi kemajuan diplomasi di tingkat BIMSTEC.
Isu Humaniter dan Tantangan yang Dihadapi Myanmar
Di luar ketegangan diplomatik yang ada, isu humaniter di Myanmar juga menjadi perhatian utama. Hal ini tentunya memperburuk posisi Myanmar di mata dunia internasional, termasuk di dalam forum-forum seperti BIMSTEC.
Kesimpulan
Kehadiran Myanmar di KTT BIMSTEC memang berada dalam ketidakpastian. Sejak kudeta militer, Myanmar menghadapi tantangan besar dalam memperoleh kembali dukungan dari negara-negara anggota dan masyarakat internasional. Ke depannya, keterlibatan Myanmar dalam BIMSTEC akan sangat bergantung pada perubahan dalam situasi domestik dan keputusan politik negara-negara anggota lainnya. Di tengah ketidakpastian ini, BIMSTEC tetap harus berusaha menjaga stabilitas dan kemajuan kawasan melalui kerjasama yang inklusif dan konstruktif.