Aktivis Pro-Palestina di Baltimore Menuntut Gencatan Senjata Segera

Di tengah ketegangan yang semakin memuncak di Timur Tengah, para aktivis pro-Palestina di Baltimore menggelar demonstrasi untuk menuntut segera dilakukannya gencatan senjata antara Israel dan Palestina. Aksi ini merupakan bagian dari gerakan global yang semakin intensif, menyerukan agar kekerasan yang telah berlangsung lama di wilayah Gaza segera dihentikan.

Baltimore, kota yang dikenal dengan keberagaman komunitas dan sejarahnya dalam gerakan hak-hak sipil, menjadi salah satu tempat di mana para aktivis memperlihatkan solidaritas mereka terhadap rakyat Palestina. Dengan latar belakang ketegangan politik yang terus berkembang, demonstrasi tersebut menekankan pentingnya peran internasional untuk menghentikan pembantaian dan penderitaan yang dialami oleh warga sipil Palestina.

Aktivis Pro-Palestina di Baltimore Menuntut Gencatan Senjata Segera

Tuntutan Gencatan Senjata dan Penyelesaian Konflik

Para aktivis di Baltimore menuntut agar Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, segera mengubah kebijakannya dan mendesak Israel untuk menghentikan serangan udara serta pemboman terhadap Gaza. Mereka juga menuntut agar gencatan senjata yang komprehensif dilaksanakan untuk memberikan ruang bagi perdamaian dan mencegah lebih banyak nyawa tak berdosa hilang.

Aksi ini bukan hanya sekedar ungkapan ketidakpuasan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, tetapi juga menjadi panggilan untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia bagi warga Palestina. Menurut beberapa orator dalam demonstrasi tersebut, serangan yang dilancarkan ke Gaza telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar, termasuk penghancuran rumah, infrastruktur, serta hilangnya banyak nyawa, terutama di kalangan wanita dan anak-anak.

Aktivis Pro-Palestina di Baltimore Menuntut

Solidaritas Global

Baltimore bukan satu-satunya tempat di mana protes semacam ini terjadi. Aksi serupa juga berlangsung di berbagai kota besar di seluruh dunia, mulai dari London, Paris, hingga New York. Para aktivis pro-Palestina mengajak semua lapisan masyarakat untuk bergabung dalam gerakan ini, dengan harapan agar suara mereka didengar oleh para pemimpin dunia.

artikel lainnya : Perubahan Iklim Global: Dampaknya pada Keamanan Pangan Dunia di 2025

Di Baltimore, banyak organisasi yang turut berpartisipasi dalam aksi protes, termasuk kelompok mahasiswa, tokoh agama, hingga komunitas imigran asal Palestina. Mereka berharap bahwa dengan menunjukkan solidaritas yang kuat, dunia akan lebih memperhatikan penderitaan rakyat Palestina dan menuntut keadilan.

Tantangan dan Kontroversi

Namun, seruan untuk gencatan senjata tidak tanpa tantangan. Beberapa pihak menganggap bahwa gencatan senjata hanya akan memberikan ruang bagi kelompok militan Hamas untuk memperkuat posisi mereka, sementara yang lain berpendapat bahwa tindakan Israel harus dihentikan untuk menghormati hak-hak warga sipil yang terluka dalam konflik ini.

Di sisi lain, kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang umumnya mendukung Israel dalam konflik ini menjadi sorotan utama dalam protes-protes tersebut. Banyak peserta aksi menyatakan bahwa kebijakan AS seharusnya lebih mendukung upaya perdamaian yang adil, bukan hanya mendukung satu pihak saja dalam konflik yang sudah berlangsung lebih dari tujuh dekade.

Harapan ke Depan

Dengan semakin berkembangnya solidaritas di berbagai penjuru dunia, para aktivis di Baltimore berharap bahwa mereka bisa membawa perhatian internasional yang lebih besar terhadap situasi di Palestina. Mereka percaya bahwa hanya dengan gencatan senjata dan dialog yang inklusif antara semua pihak, perdamaian yang adil dan berkelanjutan dapat tercapai.

Bagi banyak aktivis, ini bukan hanya tentang mendukung satu pihak dalam konflik, tetapi lebih tentang menuntut agar prinsip kemanusiaan dan keadilan ditegakkan, tanpa diskriminasi. Mereka mengingatkan dunia bahwa konflik ini bukan hanya tentang politik, tetapi juga tentang hak untuk hidup dan hidup dengan martabat.

Perubahan Iklim Global: Dampaknya pada Keamanan Pangan Dunia di 2025

beacukaipematangsiantar -Pada tahun 2025, perubahan iklim menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh dunia, dengan dampak yang semakin nyata terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan global. Perubahan pola cuaca yang ekstrem, suhu yang lebih tinggi, dan cuaca yang tidak menentu memengaruhi hasil pertanian, memperburuk krisis pangan di banyak negara.

Di beberapa wilayah, kekeringan yang panjang mengancam pasokan air untuk irigasi, menyebabkan penurunan produksi pertanian, sementara badai dan banjir yang lebih sering merusak lahan pertanian dan infrastruktur penting link medusa88. Negara-negara penghasil pangan besar seperti India, China, dan Amerika Serikat mulai merasakan dampak langsung dari cuaca ekstrem, yang mengancam ketahanan pangan domestik mereka dan memperburuk masalah impor dan ekspor bahan pangan.

Di sisi lain, negara-negara berkembang di Afrika dan Asia Tenggara menjadi yang paling rentan terhadap krisis pangan akibat perubahan iklim. Keterbatasan sumber daya untuk mengatasi bencana alam, ditambah dengan ketergantungan pada pertanian tradisional, membuat mereka lebih sulit untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang cepat.

Badan-badan internasional, seperti PBB dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), telah mengeluarkan peringatan bahwa krisis pangan global akan semakin parah jika tidak ada tindakan serius untuk mengatasi perubahan iklim. Solusi yang diusulkan mencakup inovasi dalam pertanian berkelanjutan, pengembangan teknologi pertanian yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, serta kebijakan mitigasi yang lebih tegas terhadap emisi gas rumah kaca.

Di tingkat nasional, beberapa negara mulai memperkenalkan kebijakan untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan, termasuk penggunaan energi terbarukan dalam proses produksi pangan dan pengurangan penggunaan pestisida kimia. Namun, tantangan besar masih ada, terutama bagi negara-negara yang memiliki ekonomi pertanian yang masih bergantung pada metode tradisional.

Untuk menghadapi krisis ini, kerjasama internasional menjadi kunci. Negara-negara di dunia harus bekerja sama dalam menyediakan bantuan teknis dan finansial bagi negara-negara yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim. Keamanan pangan global di tahun 2025 sangat bergantung pada upaya bersama untuk mengurangi emisi karbon, mengurangi limbah pangan, dan meningkatkan ketahanan pangan melalui inovasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terus berlangsung.

 

AHY Ingin Pekerja WFA saat Lebaran 2025, Kapan Mulai Berlaku

beacukaipematangsiantar.com – Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat, baru-baru ini mengusulkan agar pekerja di Indonesia dapat bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) atau Work From Anywhere (WFA) selama periode Lebaran 2025. Usulan ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan menghindari penyebaran COVID-19 yang masih menjadi ancaman. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut tentang latar belakang usulan AHY, potensi manfaat dan tantangan, serta kapan kebijakan ini mulai berlaku.

AHY mengusulkan kebijakan WFA selama Lebaran 2025 sebagai respons terhadap masalah yang sering terjadi selama musim mudik, yaitu kepadatan lalu lintas dan risiko penyebaran COVID-19. Menurutnya, kebijakan ini dapat membantu mengurangi beban infrastruktur transportasi dan meminimalkan risiko kesehatan bagi masyarakat.

AHY mengusulkan agar kebijakan WFA selama Lebaran 2025 mulai berlaku pada tanggal 25 April 2025 hingga 5 Mei 2025. Periode ini dipilih untuk mengakomodasi waktu mudik dan liburan Lebaran yang biasanya berlangsung selama beberapa hari.

Usulan AHY ini mendapatkan berbagai respons dari berbagai pihak. Beberapa perusahaan teknologi dan startup yang sudah terbiasa dengan model kerja WFA menyambut baik usulan ini. Mereka berpendapat bahwa kebijakan ini dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan karyawan.

Namun, beberapa perusahaan tradisional dan industri yang memerlukan kehadiran fisik karyawan Medusa88 link alternatif di tempat kerja menyatakan keberatan. Mereka khawatir bahwa kebijakan ini dapat mengganggu operasional dan mengurangi efisiensi kerja.

Untuk merealisasikan usulan ini, AHY berencana untuk mengadakan pertemuan dengan pemerintah, asosiasi pengusaha, dan serikat pekerja untuk membahas lebih lanjut tentang pelaksanaan kebijakan WFA selama Lebaran 2025. Ia juga akan mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan yang menerapkan kebijakan ini, seperti pengurangan pajak atau subsidi teknologi.

Usulan AHY untuk menerapkan kebijakan WFA selama Lebaran 2025 merupakan langkah inovatif yang bertujuan untuk mengatasi masalah kepadatan lalu lintas dan risiko kesehatan selama musim mudik. Meskipun ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, kebijakan ini memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia kerja di Indonesia. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan kebijakan ini dapat dilaksanakan dengan sukses dan memberikan dampak positif yang signifikan.

Paus Fransiskus Minta Megawati Soekarnoputri Jadi Penasihat Scholas Occurentes

beacukaipematangsiantar – Mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri, telah menerima permintaan khusus dari Paus Fransiskus untuk bergabung sebagai anggota Dewan Penasihat Scholas Occurentes, sebuah organisasi pendidikan global yang didirikan oleh Vatikan.

Permintaan ini disampaikan langsung oleh Paus Fransiskus dalam sebuah surat pribadi yang diterima oleh Megawati. Dalam surat tersebut, Paus Fransiskus menyatakan penghargaannya yang tinggi terhadap kontribusi Megawati dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan, serta keyakinannya bahwa Megawati akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi misi Scholas Occurentes.

Scholas Occurentes adalah sebuah inisiatif global yang bertujuan untuk menghubungkan sekolah-sekolah di seluruh dunia melalui teknologi dan pendidikan, serta mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Organisasi ini didirikan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2013 dan telah berkembang menjadi jaringan pendidikan terbesar di dunia, mencakup lebih dari satu juta sekolah di lebih dari 190 negara.

Megawati Soekarnoputri menyambut baik permintaan tersebut dan menyatakan komitmennya untuk berkontribusi jepang slot dalam misi Scholas Occurentes. Dalam pernyataannya, Megawati mengatakan, “Saya sangat terhormat menerima permintaan dari Paus Fransiskus untuk bergabung dengan Scholas Occurentes. Pendidikan adalah fondasi utama untuk membangun masa depan yang lebih baik, dan saya berkomitmen untuk mendukung upaya global dalam mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.”

Pemerintah Indonesia menyambut baik permintaan Paus Fransiskus dan mendukung penuh partisipasi Megawati dalam Scholas Occurentes. Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menyatakan, “Partisipasi Ibu Megawati dalam Scholas Occurentes akan memperkuat peran Indonesia dalam komunitas global dan mempromosikan nilai-nilai pendidikan dan kemanusiaan yang sejalan dengan visi Indonesia.”

Megawati Soekarnoputri diharapkan akan segera mengadakan pertemuan dengan perwakilan Scholas Occurentes untuk membahas kontribusi konkret yang dapat diberikannya sebagai anggota Dewan Penasihat. Langkah ini diharapkan akan memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Vatikan dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan.

Penunjukan Megawati Soekarnoputri sebagai anggota Dewan Penasihat Scholas Occurentes oleh Paus Fransiskus menandai momen bersejarah dalam hubungan antara Indonesia dan Vatikan. Dengan komitmen Megawati terhadap pendidikan dan kemanusiaan, diharapkan kolaborasi ini akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi generasi mendatang di seluruh dunia.

Presiden Goucher College Memberikan Sanksi Kepada Mahasiswa Yang Pro-Palestina

Mahasiswa Yang Pro-Palestina – Setidaknya sembilan mahasiswa Goucher College yang terlibat dalam perkemahan pro-Palestina di kampus tersebut menerima email pada tanggal 14 Mei yang menempatkan mereka dalam masa percobaan dan mengancam akan menskors mereka jika mereka tidak setuju untuk mematuhi kebijakan demonstrasi kampus pada hari berikutnya. “Sebagaimana telah berulang kali dikomunikasikan kepada Anda dan komunitas kami, setiap mahasiswa Goucher memiliki hak untuk berekspresi secara bebas di kampus kami, namun, ini tidak berarti Anda memiliki hak untuk melanggar kebijakan Kampus,” tulis Presiden Goucher College Kent Devereaux dalam email yang dibagikan kepada Baltimore Beat.

Presiden Goucher College Memberikan Sanksi Kepada Mahasiswa Yang Pro-Palestina

Kebijakan demonstrasi di kampus perguruan tinggi swasta mengharuskan protes dilakukan hanya selama jam kerja dan mahasiswa serta karyawan harus meminta persetujuan dari administrasi sebelum mengadakan demonstrasi di kampus. Salah seorang mahasiswa organisator, yang berbicara kepada Beat secara anonim, mengatakan bahwa negosiator mahasiswa yang menerima email sanksi diberitahu dalam pertemuan negosiasi tertutup bahwa mereka akan menerima amnesti karena melanggar kebijakan demonstrasi. Mahasiswa tersebut juga mengatakan bahwa sebagian mahasiswa yang dikenai sanksi tidak berkemah di tempat perkemahan tersebut tetapi terlibat dalam aktivitas di kampus. Mahasiswa penyelenggara lain yang terlibat dalam perkemahan itu mengatakan bahwa sanksi tersebut dapat mengakibatkan hilangnya gelar bagi sejumlah mahasiswa senior yang dijadwalkan lulus pada tanggal 24 Mei.

Seorang profesor di Goucher College mengonfirmasi bahwa perkemahan itu masih berdiri hingga Selasa malam, sebelum sanksi dikirimkan. Perkemahan di Goucher College telah berlangsung diam-diam sejak 22 April, dengan Students For a Free Palestine menyerukan kepada administrasi untuk mengakui genosida terhadap rakyat Palestina dalam pernyataan tertulis; menyusun dan menyediakan laporan tahunan tentang portofolio investasi dana abadi dan laporan keuangan universitas; menghapus Israel dari daftar program studi luar negeri yang disetujui; dan menciptakan ruang bagi mahasiswa Yahudi anti-Zionis yang tidak merasa didukung oleh organisasi Hillel di perguruan tinggi tersebut, di antara tuntutan lainnya . Para mahasiswa dan pengurus telah bernegosiasi mengenai tuntutan tersebut selama seminggu terakhir, tetapi memiliki interpretasi yang berbeda mengenai keberhasilannya.

Sanksi Kepada Mahasiswa Yang Pro-Palestina

Students For a Free Palestine merilis pernyataan mereka sendiri pada tanggal 13 Mei, yang menyatakan bahwa mereka hanya mencapai kesepakatan pada salah satu tuntutan: pengungkapan investasi Goucher College. Mereka juga mengumumkan bahwa Devereaux telah menggandakan tuntutan agar mahasiswa memindahkan perkemahan mereka dan menetapkan batas waktu pukul 11:59 malam itu. “Sebagai tanda itikad baik, saya telah memperpanjang batas waktu pembongkaran perkemahan sebanyak dua kali. Kami tidak akan memperpanjang batas waktu untuk ketiga kalinya,” tulis Devereaux dalam email kepada para negosiator mahasiswa pada tanggal 13 Mei. “Kegagalan untuk melakukan hal itu akan membahayakan semua yang telah kita negosiasikan dengan itikad baik hingga titik ini dan dapat mengakibatkan pengenaan sanksi pada siswa yang berpartisipasi,” tulis Devereaux. Goucher College tidak menanggapi permintaan komentar pada hari Selasa sebelumnya.

artikel lainnya : Tugas Bersejarah Gerakan Pembebasan Palestina

Devereaux sebelumnya mengancam tindakan disipliner terhadap Students For a Free Palestine setelah aksi duduk di gedung administrasi pada 29 April. Dalam emailnya kepada komunitas kampus, Devereaux menggambarkan aksi duduk itu sebagai “permusuhan,” dan mengklaim para peserta “menyerang secara verbal atau mengancam anggota staf yang meninggalkan Dorsey Center, menggedor jendela, menendang dinding, dan mendorong pintu melewati personel keamanan kampus. Karakterisasi tersebut dibantah oleh mahasiswa, fakultas, dan liputan surat kabar mahasiswa , yang menggambarkan aksi duduk tersebut dengan lebih ringan. “Sekitar pukul 12:32 siang, kelompok itu mencoba memasuki area dalam College Center, tetapi awalnya ditolak. Setelah mendorong sekuat tenaga ke pintu masuk, staf pengajar yang menghalangi pintu akhirnya memberi jalan,” tulis Olivia Barnes dan Sam Rose, reporter The Quindecim, surat kabar independen milik sekolah tersebut.

“Acara open mic dimulai pukul 12:45 siang, menyediakan forum bagi siapa pun yang hadir untuk menyampaikan pendapat mereka. Cukup banyak mahasiswa yang memenuhi lobi sehingga banyak yang harus menunggu di luar agar bisa masuk ke pintu.” Devereaux memperingatkan para mahasiswa yang berpartisipasi dalam aksi duduk dan melanjutkan perkemahan bahwa mereka dapat menghadapi sejumlah konsekuensi, termasuk “kehilangan hak untuk tinggal di kampus, kehilangan dukungan beasiswa, atau kemungkinan penangguhan atau pemecatan dari Kampus.” Presiden tidak mengancam akan memanggil polisi ke perkemahan mahasiswa, seperti yang terlihat di kampus-kampus di seluruh negeri. The Appeal melaporkan bahwa hingga 7 Mei, hampir 3.000 mahasiswa telah ditangkap saat memprotes genosida Israel di Gaza.

Tugas Bersejarah Gerakan Pembebasan Palestina

Gerakan Pembebasan Palestina – Dua ratus hari setelah agresi Zionis di Gaza, perjuangan Palestina berada di tengah situasi kritis. Selama berbulan-bulan, organisasi-organisasi di Amerika Utara telah memperkuat dan memimpin gerakan massa untuk memajukan perjuangan pembebasan nasional Palestina dari dalam inti kekaisaran. Karakter populer dan revolusioner dari gerakan ini telah dibuktikan oleh jutaan orang yang berbaris di jalan-jalan, aksi langsung di semua kota besar, pengorganisasian dan kampanye berbasis sektor yang baru dan baru-baru ini berenergi, kemenangan dalam perjuangan ideologis dan media, dan yang terbaru, perkemahan mahasiswa yang menuntut divestasi di universitas dan perguruan tinggi. Melalui perkembangan ini, ribuan orang telah dibawa ke dalam perjuangan, tergerak untuk bertindak oleh kebobrokan genosida yang dipimpin dan didanai AS dan kejelasan moral perlawanan Palestina.

Tugas Bersejarah Gerakan Pembebasan Palestina

Konferensi ini dikaitkan dengan kepemimpinan pemberontakan yang sekarang diperingati oleh warga Palestina sebagai “Hari Tanah”, yang telah menghasilkan banyak resolusi, meletakkan dasar bagi pemogokan umum, dan membentuk komite untuk melaksanakan tujuan politiknya. Ini adalah salah satu dari banyak simpul dalam sejarah panjang warga Palestina yang menggunakan konferensi untuk mengkonkretkan tujuan strategis dan mengonsolidasikan pertanyaan ideologis, yang dimulai sejak periode pra- nakba : dari Kongres Wanita Arab Pertama pada tanggal 26 Oktober 1929, hingga Kongres Pemuda di Jaffa pada tanggal 4 Desember 1932, dan di Haifa pada tanggal 10 Mei 1935—yang semuanya menyatakan penentangan terhadap penjajahan Inggris dan Zionis, dan mendukung Revolusi Petani Besar tahun 1936–39. Di saat krisis dan revolusi, warga Palestina beralih ke konferensi untuk menyatukan rakyat dan gerakan kami serta untuk memberikan keyakinan dan kejelasan politik ke dalam organisasi dan masyarakat sipil.

Tugas Gerakan Pembebasan Palestina

Untuk menghormati tradisi ini, dari tanggal 24–26 Mei 2024, 14 organisasi penyelenggara dan lebih dari 300 organisasi pendukung – termasuk organisasi Palestina yang telah memimpin gerakan massa untuk Palestina di Amerika Utara – akan berkumpul di Detroit, Michigan, untuk The People’s Conference for Palestine . Sebuah kota yang tidak asing dengan perampasan kapitalisme Amerika, Detroit telah menjadi tempat perjuangan revolusioner selama beberapa dekade, menjadi tuan rumah bagi League of Revolutionary Black Workers (dan partisipasi mereka dalam National Black Economic Development Conference yang bersejarah, pertama kali diadakan di kota tersebut pada bulan April 1969), dan salah satu tempat terbesar kehidupan diaspora Arab.

artikel lainnya : Mahasiswa Debitur dan Aktivis Menyerbu DC Menuntut Pembatalan

Konferensi Rakyat untuk Palestina muncul di saat perjuangan pembebasan di Gaza telah menghasilkan kantong-kantong energi revolusioner di seluruh dunia. Panggilan itu telah terjawab: dalam gerakan buruh, di kampus-kampus, dan di jalan-jalan, orang-orang dipolitisasi di sekitar Palestina dan kontradiksi kekaisaran yang menyertainya pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya di abad ke-21. Aksi rakyat selama tujuh bulan terakhir juga telah menimbulkan pertanyaan penting seputar konsolidasi, persatuan, skala, dan bentuk struktural, khususnya yang terkait dengan bagaimana perjuangan membangun mobilisasi massa yang ada menuju organisasi yang lebih dalam. Gerakan yang terorganisasi adalah gerakan yang efektif, yang lebih mampu mempolitisasi dan mempertahankan perolehan kesadaran massa, untuk mempertahankan hubungan jangka panjang yang dibutuhkan untuk membangun basis dan advokasi, untuk melindungi dan melawan penindasan negara, dan untuk berkoordinasi di seluruh pengaturan perjuangan yang berbeda dengan skala dan kekhususan historis.

Pertanyaan tentang organisasi menjadi sangat penting mengingat serangan berkelanjutan terhadap lembaga-lembaga kehidupan sosial dan politik Palestina, yang dipercepat oleh periode neoliberal pasca-Oslo yang telah menyebabkan runtuhnya kekuatan dan militansi perjuangan di Barat. Kondisi-kondisi ini dengan mudah ditantang oleh gerakan yang sedang dibangun kembali dan dipimpin oleh warga Palestina yang berkomitmen secara politik, yang telah menyelenggarakan konferensi ini bersama para jurnalis dan pekerja bantuan di Gaza, aktivis dari Palestina, para tetua gerakan antiperang, dan pemimpin mahasiswa untuk mendukung setiap lokasi perjuangan dalam mengembangkan penilaiannya sendiri terhadap kondisi dan tujuan.

Melalui peran penggalangan dana langsungnya dengan menyumbangkan semua biaya pendaftaran ke Gaza, konferensi tersebut telah mengumpulkan lebih dari $100.000,00 USD, yang menegaskan bahwa diaspora Palestina memiliki peran bersejarah untuk dimainkan dalam perjuangan pembebasan nasional tidak hanya dalam ranah organisasi politik, tetapi juga berkaitan dengan dukungan keteguhan rakyat kita – sebuah konsep yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai ta3ziz al sumud. Bentuk-bentuk perjuangan ini penting bukan hanya untuk menentang kengerian genosida yang sedang berlangsung, tetapi juga untuk tantangan bersejarah dalam mengakhiri dukungan AS terhadap proyek Zionis, mencabut pengepungan di Gaza, dan membebaskan tanah dan rakyat Palestina hingga kami kembali. Kami harap Anda akan bergabung dengan kami!

Mahasiswa Debitur dan Aktivis Menyerbu DC Menuntut Pembatalan

Debitur dan Aktivis Menyerbu DC – Belasan aktivis ditangkap dalam aksi pembangkangan sipil di Gedung Capitol AS di Washington DC pada Rabu, 22 Mei, untuk mendesak Presiden Joe Biden agar “mendanai pendidikan, bukan genosida.” Menjelang pertandingan ulang pada bulan November antara Biden dan mantan Presiden Donald Trump untuk Gedung Putih, para aktivis menyerukan agar Biden berinvestasi dalam pengeluaran sosial dan menghentikan bantuan ke Israel di tengah serangan habis-habisannya selama delapan bulan di Gaza. “Negara kita tampaknya menemukan dana dan uang untuk perang yang tak berkesudahan,” kata Rep. Rashida Tlaib dalam sebuah rapat umum di kantor pusat Departemen Pendidikan sebelum penangkapan. “Namun, tahun demi tahun, rekan-rekan saya mengatakan kepada saya bahwa tidak ada uang untuk investasi yang menyelamatkan nyawa di komunitas kita.” Pagi itu, pemerintahan Biden mengumumkan keringanan utang mahasiswa sebesar $7,7 miliar untuk 160.000 peminjam, menambah jumlah keringanan utang mahasiswa yang ditargetkan sebelumnya sebesar $160 miliar.

Mahasiswa Debitur dan Aktivis Menyerbu DC Menuntut Pembatalan

Debt Collective – serikat debitur nasional, yang mengorganisir protes tersebut – menyerukan Biden untuk menggunakan kekuasaan eksekutif guna menghapus seluruh utang pinjaman mahasiswa senilai $1,7 triliun. “Perguruan tinggi dan universitas negeri kita telah menghadapi divestasi dan divestasi selama puluhan tahun, yang telah menciptakan sistem dua tingkat yang menghukum mahasiswa berpenghasilan rendah dengan utang seumur hidup,” kata Rep. Cori Bush, yang menyerukan investasi besar-besaran dalam pendidikan, infrastruktur, dan perawatan kesehatan alih-alih pengeluaran militer. “Masyarakat menginginkan gencatan senjata. Masyarakat ingin menghentikan pendanaan, genosida, dan perang yang tak berkesudahan. Masyarakat ingin menghentikan penggunaan uang pajak mereka untuk membom anak-anak,” katanya.

Penyelenggara mengatakan aksi tersebut terinspirasi oleh ribuan mahasiswa yang telah diejek dan ditangkap di perkemahan solidaritas Gaza, yang menekan universitas mereka untuk memutuskan hubungan dengan Israel. “Ketika berbicara tentang pembatalan utang pinjaman mahasiswa, orang-orang mengatakan utang pinjaman mahasiswa tidak akan pernah dibatalkan ketika saya mulai memperjuangkan ini pada tahun 2007,” kata Tiffany Dena Loftin, pemimpin kampanye pendidikan tinggi Debt Collective, dalam sebuah wawancara dengan The Real News. Lebih dari 500.000 orang telah memberikan suara “tidak berkomitmen” dalam pemilihan pendahuluan Demokrat sebagai protes terhadap dukungan militer dan diplomatik Biden yang berkelanjutan terhadap Israel. “Saat ini di pemilihan pendahuluan, ada siswa yang berkata, ‘Jika kalian tidak berdiri di sisi keadilan yang benar, jika kalian belum menyatakan pendapat, sisi kebebasan yang benar, kami tidak akan memilih kalian,’” kata Loftin.

Mahasiswa Debitur dan Aktivis Menyerbu DC

Minggu lalu, pembawa acara Real Time Bill Maher menyerang inisiatif pengampunan pinjaman Biden untuk peminjam mahasiswa. “Perguruan tinggi terus-menerus menaikkan biaya kuliah, lalu mahasiswa mengambil lebih banyak pinjaman, lalu pemerintah datang dan membayar pinjaman tersebut. Oke, jadi uang pajak saya mendukung pembenci Yahudi ini? Saya rasa tidak.” Loftin menolak karakterisasi para pengunjuk rasa antiperang sebagai antisemit. “Kami anti-Zionis, dan kami ingin membebaskan Palestina. Selain itu, kami tidak ingin mendanai bom yang membunuh bayi saat ini, kami ingin uang itu digunakan untuk mendanai pendidikan gratis di Amerika. Tidak ada yang salah dengan itu.” Yang juga berpidato di rapat umum itu adalah Lily Greenberg Call, yang minggu lalu menjadi pejabat pemerintahan Biden Yahudi-Amerika pertama yang mengundurkan diri sebagai protes terhadap kebijakan AS terhadap Gaza.

artikel lainnya : Mahasiswa Bersejarah Untuk Palestina di UC Davis dan Stanford

“Saya tidak bisa lagi melayani presiden ini, mewakili pemerintahan ini, yang mendanai genosida Palestina dan mengabaikan suara rakyat Amerika yang telah menyampaikan keinginan mereka dengan lantang dan jelas: gencatan senjata sekarang,” kata Greenberg Call, yang dari tahun 2017 hingga 2019 menjabat sebagai presiden Bears for Israel, kelompok afiliasi Komite Urusan Publik Amerika Israel di UC Berkeley. Banyak peserta unjuk rasa itu juga mengkritik pemerintahan Biden karena mengizinkan penjualan senjata senilai $1 miliar ke Israel seminggu setelah menghentikan pengiriman bom seberat 2.000 pon karena kekhawatiran penggunaannya di wilayah sipil yang berpenduduk padat. Lebih dari 34.000 warga Palestina telah tewas di Gaza sejak serangan 7 Oktober oleh Hamas terhadap Israel, yang menewaskan 1.200 orang, termasuk banyak warga sipil.

Minggu ini, jaksa Pengadilan Kriminal Internasional meminta surat perintah penangkapan bagi para pemimpin senior Hamas dan Israel atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. Pengadilan Internasional telah mendesak Israel untuk mencegah genosida di Gaza. “Kami akan mendapatkan gencatan senjata. Kami akan mendapatkan kesepakatan penyanderaan. Kami akan berhenti mengirim senjata ke Israel. Kami akan mengakhiri sistem apartheid dan pendudukan yang membentang di Tanah Suci,” kata Greenberg Call. Pengeluaran militer AS jauh melampaui negara-negara lain, mencakup 37% dari pengeluaran militer global —lebih dari sembilan negara berikutnya jika digabungkan, menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm.

Mahasiswa Bersejarah Untuk Palestina di UC Davis dan Stanford

UC Davis dan Stanford – Perguruan tinggi dan universitas di seluruh AS telah berubah menjadi medan pertempuran bagi gerakan solidaritas Palestina, karena para mahasiswa memobilisasi diri melawan keterlibatan finansial sekolah mereka dengan pendudukan Israel. Di UC Davis & Stanford, perjuangan yang dipimpin mahasiswa telah menghasilkan prestasi bersejarah. Aktivis UC Davis baru-baru ini meloloskan undang-undang di pemerintahan mahasiswa untuk memboikot dan menarik diri dari semua “perusahaan yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Palestina.” Di Stanford, para mahasiswa yang memprotes keterlibatan universitas mereka dalam genosida di Gaza baru saja mengakhiri aksi duduk terlama dalam sejarah sekolah tersebut, berkemah selama lebih dari 120 hari. The Real News berbincang dengan para penyelenggara mahasiswa tentang prestasi terbaru mereka di kampus masing-masing, dan cara menjaga agar gerakan mahasiswa dalam solidaritas dengan Palestina tetap berjalan.

Mahasiswa Bersejarah di UC Davis dan Stanford

Panelisnya meliputi: Batool, seorang mahasiswa ilmu politik tahun keempat asal Palestina di UC Davis dan wakil presiden Students for Justice in Palestine (SJP), cabang UC Davis; Malak, seorang mahasiswa Palestina tahun kedua jurusan neurobiologi di UC Davis dan bendahara SJP, cabang UC Davis; Seena, seorang mahasiswa Palestina tahun keempat jurusan ganda ilmu kognitif dan ilmu politik di UC Davis, dan presiden SJP, cabang UC Davis; Farah, seorang mahasiswa tahun kedua di Stanford dan wakil presiden SJB, cabang Stanford; dan Hana, seorang mahasiswa di Stanford dan salah satu penyelenggara Stanford Sit-In to Stop Genocide.

Mahasiswa Bersejarah di UC Davis dan Stanford

Selamat datang semuanya, di The Real News Network Podcast . Nama saya Maximillian Alvarez, saya pemimpin redaksi di The Real News, dan senang sekali Anda semua bisa bergabung dengan kami. Sebelum kita mulai hari ini, saya ingin mengingatkan Anda semua bahwa The Real News adalah jaringan media akar rumput yang didukung oleh pemirsa dan pendengar independen. Kami tidak menerima uang perusahaan, kami tidak memasang iklan, dan kami tidak pernah membayar laporan kami. Kami memiliki tim yang kecil namun luar biasa di sini yang sangat berdedikasi untuk menyuarakan perjuangan dari garis depan di seluruh dunia. Namun, kami tidak dapat terus melakukan pekerjaan itu tanpa dukungan Anda dan kami membutuhkan Anda semua untuk menjadi pendukung The Real News sekarang. Silakan kunjungi therealnews.com/donate dan berdonasi hari ini. Saya jamin, itu benar-benar membuat perbedaan.

artikel lainnya : Jumlah Korban Tewas di Gaza

Seperti yang dilaporkan Megan Fan Munce di San Francisco Chronicle pada tanggal 14 Februari, “Mahasiswa pro-Palestina di Universitas Stanford telah berkemah di kampus selama 120 hari untuk menekan universitas agar menyerukan gencatan senjata antara Israel dan Hamas dan menarik investasi dari Israel, di antara tuntutan lainnya. Namun para mahasiswa akan mengakhiri protes mereka minggu ini dengan imbalan pertemuan dengan pimpinan universitas untuk membahas tuntutan mereka. Pada hari Selasa, para pemimpin aksi duduk mengumumkan di media sosial bahwa mereka telah setuju untuk mengakhiri demonstrasi pada Jumat malam setelah administrator universitas berjanji dalam sebuah surat untuk tidak melakukan tindakan hukum atau disiplin terhadap demonstran mana pun dan untuk bertemu dengan perwakilan tentang tuntutan mereka. Selama lebih dari 100 hari, puluhan mahasiswa Stanford pada satu waktu belajar dan tidur di tenda-tenda luar ruangan di White Plaza, bahkan menghadapi rentetan badai kuat baru-baru ini dengan menggunakan karung pasir dan secara fisik menahan tenda-tenda tersebut.

Kami memiliki mahasiswa Zionis yang sangat intens dalam apa yang mereka lakukan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kami terus-menerus diganggu; Kami telah menerima ancaman pembunuhan berkali-kali dari mahasiswa Zionis di kampus ini. Mereka tahu siapa kami dan mereka langsung menargetkan kami, dengan berbagai cara yang berbeda, tetapi meskipun demikian, kami tidak akan menjadi korban taktik Zionis. Kami telah melihat ini sebelumnya. Kami melihatnya di Palestina. Taktik intimidasi ini tidak memperlambat gerakan kami, tidak menghentikan gerakan kami, dan kami selalu mengingatkan diri kami untuk tetap teguh dan percaya diri dalam apa yang kami lakukan. Karena pada akhirnya, kami sepenuhnya menyadari bahwa meskipun universitas dan administrasi kami mungkin tidak mendukung kami, kami tidak melakukan ini untuk mereka, kami melakukan ini untuk orang-orang di Palestina. Itulah yang membuat kami tetap teguh dalam gerakan kami.

Jumlah Korban Tewas di Gaza – Seorang Dokter UGD Berbagi Apa Yang Ia Lihat di Gaza

Jumlah korban tewas di Gaza kini semakin mendekati angka 30.000, tanpa ada tanda-tanda akan berakhirnya pemboman Israel atau dukungan politik, militer, dan finansial AS terhadap genosida yang sedang berlangsung. Di tengah pembantaian dan kengerian selama 144 hari terakhir, para pekerja medis Gaza telah bekerja sepanjang waktu dalam kondisi yang tak terbayangkan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Israel telah menjawab keberanian mereka dengan kebiadaban yang brutal, menghancurkan setiap rumah sakit di Gaza, secara rutin menargetkan kendaraan medis darurat, dan menewaskan sedikitnya 627 petugas kesehatan. Dr. Thaer Ahmad , seorang dokter UGD Palestina-Amerika, berbicara dengan The Real News tentang apa yang disaksikannya di Rumah Sakit Al Nasser di Khan Younis selama misi medisnya baru-baru ini ke Jalur Gaza.

Jumlah Korban Tewas di Gaza - Seorang Dokter UGD Berbagi Apa Yang Ia Lihat di Gaza

Saat kita memulai percakapan ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal; Hingga hari ini, pada tanggal 20 Februari, sedikitnya 28.775 warga Gaza telah tewas. Di antara jumlah tersebut terdapat sedikitnya 12.300 anak-anak, lebih dari 7.000 orang hilang, terjebak di bawah reruntuhan, dan 68.552 orang terluka, termasuk sedikitnya 8.663 anak-anak. Di Tepi Barat, tidak kurang dari 400 orang tewas, lebih dari 100 di antaranya anak-anak, dan 4.500 orang terluka. Gaza sedang dihancurkan dan infrastrukturnya hancur. Lebih dari 360.000 rumah telah hancur dan 1,7 juta dari 2,3 juta orang mengungsi. Hanya 11 dari 35 rumah sakit yang berfungsi – Dan itu, sebagian, nyaris tidak berfungsi. Dan semua ini berasal dari pelacak langsung Al Jazeera tentang Perang Gaza, yang akan kami tautkan.

Jumlah Korban Tewas di Gaza – Seorang Dokter UGD

Sebelum kita memulai percakapan ini, ada beberapa detail grafis yang akan dibahas oleh Dr. Ahmad dan saya, jadi bersiaplah untuk itu saat kita berbicara dengan seorang pria yang baru saja kembali. Jadi sekali lagi, Dr. Ahmad, selamat datang. Saya hanya ingin menyampaikannya. Namun, statistik tersebut, meskipun kedengarannya mengerikan, tidak dapat menyentuh kenyataan tentang apa yang dialami warga Gaza dan Palestina di lapangan, dan apa yang Anda alami di lapangan. Saya adalah bagian dari delegasi kedua penyedia layanan kesehatan yang dapat masuk pada awal Januari. Hal yang langsung terasa adalah, Anda mendarat di Kairo, Anda bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia, mereka menyusun tim medis darurat, dan saat Anda memulai perjalanan menuju perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir, Anda mulai melihat barisan truk kemanusiaan yang diparkir di sisi jalan. Antreannya sangat panjang dan Anda mulai menyadari, oke, di sinilah antreannya. Ini nyata, kurangnya bantuan yang masuk.

artikel lainnya : Kematian Zionisme Liberal Genosida Israel di Gaza

Anda tiba di perbatasan, tidak ada seorang pun di sana. Saya pernah ke perbatasan Mesir sebelumnya; Cukup ramai. Orang-orang masuk dan keluar dari Gaza, barang-barang datang, barang-barang komersial, dan keluarga-keluarga dan tempat itu kosong. Saya muncul sekitar pukul 2:00 siang, dan ada lima patroli perbatasan Mesir di sisi pemeriksaan paspor ini. Tidak ada seorang pun di sana. Hanya saya dan sekelompok 30 atau 40 pekerja LSM dengan tujuh atau delapan dokter yang siap bekerja. Jadi semuanya berbeda tentang ini. Segala sesuatu tentang perjalanan ini tidak seperti yang pernah saya lihat sebelumnya. Detik Anda menyeberang ke sisi Palestina Rafah, tidak ada listrik. Bahkan pemeriksaan paspor pun. Tidak ada lampu di sana. Tidak ada listrik yang bisa Anda gunakan untuk mengambil barang bawaan Anda dari rak. Anda langsung dikejutkan oleh perbedaannya begitu Anda melintasi perbatasan.

Kami mengambil barang-barang kami, kami tiba, matahari terbenam, kami naik mobil van, dan tibalah kami di kota tenda di Rafah. Saya pernah ke Rafah sebelumnya, dan kota ini adalah kota yang sangat pedesaan – 250.000 orang. Dan ketika kami di sana, jumlah penduduknya sudah mulai melampaui satu juta orang. Anda dapat langsung merasakan kepadatan di mana-mana; Tenda-tenda darurat didirikan di mana-mana di kota pedesaan ini, tidak ada lampu di mana pun di tengah malam, orang-orang berlalu-lalang, dan lampu depan mobil van kami menyingkapkan apa yang dapat kami lihat. Ketika saya mendengar deskripsi Anda, dan apa yang saya lihat di foto dan film, serta berbicara dengan beberapa orang lain, orang-orang benar-benar tidak dapat memahami bahwa ini adalah mimpi buruk distopia. Kadang-kadang saya bahkan tidak tahu bagaimana mengatakannya. Ini bahkan tidak seperti perang biasa.

Kematian Zionisme Liberal Genosida Israel di Gaza

Kematian Zionisme Liberal – Zionisme Liberal, gagasan bahwa keberadaan Israel dapat sejalan dengan nilai-nilai liberal, telah berakhir. Sementara genosida Israel di Gaza terus berlanjut meskipun dunia dan Mahkamah Internasional menentangnya, jelas bahwa harapan generasi sebelumnya untuk membangun masyarakat humanis di Israel telah gagal. Israel telah lama melegitimasi dirinya dengan mengaku perlu melindungi orang-orang Yahudi dari antisemitisme. Namun, Yudaisme dan identitas Yahudi jauh lebih tua daripada Zionisme, dan jauh lebih beragam daripada klaim sempit Zionisme untuk memonopoli makna iman dan keturunan. Rabbi Shaul Magid bergabung dengan The Chris Hedges Report untuk berdiskusi tentang bagaimana fanatisme agama mendominasi politik Israel, dan bagaimana identitas Yahudi yang menolak Zionisme dapat dibangun dari sejarah yang kaya dan mendalam tentang iman dan orang-orang Yahudi.

Kematian Zionisme Liberal Genosida Israel di Gaza

Apakah Zionisme, khususnya Zionisme liberal, telah kehabisan tenaga? Konstruksi humanistik Zionisme liberal selalu bertentangan dengan dirinya sendiri karena penolakannya untuk memberikan hak sipil dan politik yang sama kepada warga Palestina dan telah menyebabkan banyak orang Israel memeluk Zionisme religius yang jauh lebih chauvinistik dan fanatik. Apa artinya ini bagi Israel? Dan yang lebih penting, apa artinya ini bagi Yudaisme? Gerakan Zionis yang menjadi kekuatan dominan dengan berdirinya negara Yahudi pada tahun 1948, telah berusaha untuk membungkam para kritikus Yahudi terhadap Zionisme. Gerakan ini tidak hanya memfitnah orang-orang Yahudi yang tidak memeluk Zionisme tetapi juga mencap mereka sebagai “anti-Yahudi,” “Yahudi yang membenci diri sendiri,” atau “anti-Yahudi.”

Rabbi Magid melanjutkan argumennya bahwa tuntutan untuk Zionisasi penuh orang Yahudi Amerika adalah upaya untuk mencap semua orang yang tidak memberikan kesetiaan utama mereka kepada negara Israel sebagai bidah atau murtad. Pertarungan dalam Zionisme ini menimbulkan pertanyaan penting: Apa peran pengasingan dalam kepercayaan Yahudi? Apa peran negara Israel dalam kepercayaan Yahudi? Apakah Zionisme satu-satunya tempat berlindung sejati bagi orang Yahudi? Apakah orang Yahudi yang menolak Zionisme dan pendudukan Israel atas Palestina, yang merangkul kehidupan di luar Israel, menjunjung tinggi atau menentang tradisi Yahudi? Apakah negara bangsa adalah struktur kolektif terbaik atau tersehat bagi orang Yahudi? Apakah tanah air Yahudi, yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai tanah Israel, terhubung dengan kedaulatan? Yudaisme sudah ada jauh sebelum konsep kedaulatan dan tanah Israel telah menjadi tanah air orang Yahudi selama ribuan tahun tanpa kedaulatan.

Kematian Zionisme Liberal Genosida Israel

Saya membaca buku Anda dan menyukainya. Seperti yang Anda ketahui, saya kuliah di Harvard Divinity School dan dibesarkan di keluarga Presbyterian. Salah satu hal yang saya lihat dan saya rasa Anda juga bereaksi terhadapnya adalah, khususnya selama krisis seperti Perang Vietnam, betapa banyak pendeta Kristen yang bersedia menguduskan perang, dan menguduskan negara Amerika. Ayah saya berada dalam gerakan antiperang; Mereka yang menentang pengudusan kekuasaan negara dengan cepat terpinggirkan, tidak hanya dalam masyarakat tetapi juga sering kali dalam gereja institusional. Apakah Anda menulis tentang fenomena yang sama?

artikel lainnya : Krisis Energi Global: Negara-Negara Berusaha Mencari Solusi Berkelanjutan di Tengah Ketidakpastian

Pertama-tama, terima kasih telah mengundang saya. Saya menghargainya dan merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk berada di sini. Pada tingkat tertentu, ada persimpangan antara agama dan politik yang muncul melalui Zionisme yang sebelumnya tidak pernah ada bagi orang Yahudi. Menavigasi perairan politik yang sangat, sangat rumit itu, terutama ketika Anda berhadapan dengan – Seperti yang hampir selalu terjadi dalam politik – Memerintah orang lain, agama sering kali muncul untuk menantang politik dan kemudian terkadang digunakan untuk menegaskan politik. Itulah bagian dari hubungan antara Zionisme dan Yudaisme saat ini. Apa peran politik dalam sejarah Yudaisme di pengasingan? Asumsi yang saya mulai adalah bahwa orang Yahudi masih hidup dalam keadaan pengasingan, baik mereka tinggal di tanah Israel atau di diaspora. Perbedaan antara diaspora dan pengasingan adalah perbedaan yang penting, itu adalah bagian penting dari buku ini.

Diaspora adalah istilah deskriptif, artinya penyebaran. Istilah ini diciptakan oleh orang Yunani, mungkin untuk merujuk kepada orang Yahudi atau mungkin juga tidak. Namun, bagaimanapun juga, diaspora bukanlah sesuatu yang bernilai; diaspora hanyalah keberadaan orang-orang yang tinggal di luar tanah air. Sedangkan pengasingan adalah istilah teologis. Diaspora bukanlah istilah deskriptif, melainkan istilah eksistensial. Idenya adalah bahwa perjanjian yang ada tidak berada dalam kondisi terpenuhi, tetapi dalam proses menjadi. Dan itu bukanlah sesuatu yang hanya menjadi bagian dari Yudaisme. Saya berpendapat bahwa pengasingan merupakan inti dari Yudaisme. Yudaisme seperti yang kita kenal saat ini lahir dalam pengasingan dan, dalam banyak hal, merupakan respons terhadapnya.

Pengasingan berarti – tentu saja dari perspektif tradisional – Keadaan menjadi; Ini berarti keadaan belum, ini berarti keadaan keberadaan di luar pemenuhan janji perjanjian yang dibuat oleh para nabi. Jadi, dengan cara tertentu, akhir dari pengasingan hanya ada dalam imajinasi kenabian. Akhir dari pengasingan hanyalah kedatangan Mesias dan karena orang Yahudi tidak percaya bahwa Mesias telah datang, mereka hidup dalam keadaan pengasingan. Zionisme, sampai taraf tertentu, menantang hal itu dengan membuat klaim bahwa seseorang dapat mengakhiri pengasingan tanpa pemenuhan mesianisnya. Itulah bagian dari apa yang ingin dicapai Zionisme dalam mendirikan negara-bangsa Yahudi yang berdaulat.